Lewati ke konten

Perkum No. 13/2022 - Tata Cara Pergantian Pengurus Antar Waktu dan Pelimpahan Fungsi Jabatan

Tentang Tata Cara Pergantian Pengurus Antar Waktu dan Pelimpahan Fungsi Jabatan

Section titled “Tentang Tata Cara Pergantian Pengurus Antar Waktu dan Pelimpahan Fungsi Jabatan”

Dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini yang dimaksud dengan:

  1. Pengurus Nahdlatul Ulama adalah perangkat yang menjalankan aktivitas Perkumpulan Nahdlatul Ulama di suatu wilayah pada masa khidmat tertentu, yang terdiri dari sejumlah pejabat pengurus yang tersusun secara struktural dan memiliki jabatan, bidang kerja, tugas, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing, serta memperoleh pengesahan dalam bentuk surat keputusan.

  2. Pejabat pengurus adalah anggota Nahdlatul Ulama yang namanya tercatat dalam struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama yang telah memperoleh pengesahan dalam bentuk surat keputusan.

  3. Masa khidmat pengurus Nahdlatul Ulama, selanjutnya disebut masa khidmat, adalah rentang waktu pengabdian pengurus yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama Pasal 16 yaitu 5 (lima) tahun.

  4. Rais ‘Aam adalah pimpinan tertinggi perkumpulan Nahladtul Ulama.

  5. Rais Syuriyah di tingkatan masing-masing adalah Rais Syuriyah Pengurus Wilayah, Rais Syuriyah Pengurus Cabang, Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang dan Rais Syuriyah Pengurus Ranting atau Rais Syuriyah Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama.

  6. Ketua Umum adalah Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

  7. Ketua di tingkatan masing-masing adalah Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah, Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang, Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang dan Ketua Tanfidziyah Pengurus Ranting atau Ketua Tanfidziyah Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama.

  8. Berhalangan tetap adalah keadaan tidak melaksanakan tugas dan jabatan dikarenakan pejabat definitif yang bersangkutan meninggal dunia atau diberhentikan tetap dari pengurus Nahdlatul Ulama, yang menimbulkan kekosongan jabatan.

  9. Berhalangan sementara adalah keadaan tidak melaksanakan tugas dan jabatan dikarenakan pejabat definitif yang bersangkutan berhalangan selama kurang dari enam bulan.

  10. Kuorum adalah jumlah minimum peserta forum permusyawaratan yang harus hadir dalam forum permusyawaratan.

(1) Pergantian pengurus antar waktu, selanjutnya disebut pergantian pengurus, adalah perubahan susunan pengurus Nahdlatul Ulama yang masa khidmatnya sedang berjalan.

(2) Pergantian pengurus dilaksanakan dalam rangka mengisi kekosongan jabatan antar waktu dikarenakan terdapat pejabat pengurus yang berhalangan tetap.

Berhalangan tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dikarenakan antara lain:

  1. meninggal dunia; dan/atau
  2. pemberhentian tetap.

Pemberhentian tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b terdiri dari pemberhentian dengan hormat dan pemberhentian tidak dengan hormat.

Pemberhentian dengan hormat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilakukan terhadap pejabat pengurus dikarenakan yang bersangkutan antara lain:

  1. mengundurkan diri dengan alasan yang dapat diterima
  2. sakit yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan tugas perkumpulan sedikitnya selama enam bulan
  3. pindah domisili sehingga tidak dapat melaksanakan tugas perkumpulan secara wajar
  4. tidak aktif sedikitnya dalam enam bulan dengan tidak meninggalkan persoalan yang merugikan perkumpulan tanpa pemberitahuan dan alasan yang dapat diterima
  5. melanggar larangan rangkap jabatan sebagaimana diatur dalam Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama; dan/atau
  6. tidak mengikuti dan tidak lulus pendidikan kaderisasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama tentang Syarat Menjadi Pengurus.

Pemberhentian tidak dengan hormat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilakukan terhadap pejabat pengurus dikarenakan yang bersangkutan:

  1. melakukan tindakan yang mencemarkan nama baik perkumpulan
  2. melakukan tindakan yang merugikan perkumpulan secara materiil; dan/atau
  3. menjalani hukuman penjara karena tindak pidana yang tuntutan pidananya minimal 5 (lima) tahun berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

(1) Pelimpahan fungsi jabatan adalah penunjukan dan pemberian mandat kepada salah satu pejabat pengurus untuk menjalankan tugas jabatan tertentu dalam suatu kepengurusan Nahdlatul Ulama yang masa khidmatnya sedang berjalan.

(2) Pelimpahan fungsi jabatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikarenakan pejabat pengurus definitif yang bersangkutan berhalangan sementara.

Berhalangan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dikarenakan antara lain:

  1. menjalankan tugas perkumpulan
  2. menjalankan tugas belajar
  3. sakit
  4. permohonan izin yang dikabulkan
  5. penonaktifan; dan/atau
  6. halangan lainnya yang dapat mengganggu penyelenggaraan perkumpulan.

Penonaktifan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf e dilakukan terhadap pejabat pengurus karena yang bersangkutan melakukan tindakan yang dapat merugikan perkumpulan baik secara materiil maupun non materiil.

Bagian Kesatu Pergantian Pengurus Antar Waktu

(1) Pergantian pengurus untuk jabatan Rais ‘Aam, Ketua Umum, Rais Syuriyah dan Ketua di tingkatan masing-masing ditetapkan dalam Rapat Pleno.

(2) Pejabat pengurus yang dapat dipilih dan diangkat dalam pergantian pengurus untuk jabatan Rais ‘Aam atau Rais Syuriyah di tingkatan masing-masing sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah salah satu Wakil Rais ‘Aam atau Wakil Rais Syuriyah yang tercatat dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama yang sama.

(3) Pejabat pengurus yang dapat dipilih dan diangkat dalam pergantian pengurus untuk jabatan Ketua Umum atau Ketua di tingkatan masing-masing sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah salah satu Wakil Ketua Umum Tanfidziyah atau Wakil Ketua Tanfidziyah yang tercatat dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama yang sama.

(4) Rapat Pleno sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) adalah rapat yang dihadiri oleh Mustasyar, Pengurus Lengkap Syuriyah, Pengurus Harian Tanfidziyah, Ketua Lembaga dan Ketua Badan Otonom serta dinyatakan memenuhi kuorum.

(5) Surat undangan Rapat Pleno sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) untuk Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ditandatangani oleh Rais ‘Aam, Katib ‘Aam, Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal.

(6) Surat undangan Rapat Pleno sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) untuk Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Majelis Wakil Cabang, Pengurus Ranting dan Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama ditandatangani oleh Rais, Katib, Ketua dan Sekretaris pengurus Nahdlatul Ulama di tingkatan masing-masing.

(7) Dalam hal pergantian pengurus terkait jabatan Rais ‘Aam, Katib ‘Aam, Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal atau Rais, Katib, Ketua dan Sekretaris di tingkatan masing-masing, surat undangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dan (6) dapat ditandatangani oleh wakil pejabat yang bersangkutan.

(8) Pergantian pengurus untuk jabatan selain Rais ‘Aam, Ketua Umum, Rais Syuriyah dan Ketua di tingkatan masing-masing diputuskan dalam Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.

(9) Pergantian pengurus ditindaklanjuti dengan mengirimkan surat permohonan pengesahan susunan pengurus antar waktu dengan melampirkan berita acara hasil Rapat Pleno atau Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.

(10) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (9) disertai surat rekomendasi dari pengurus Nahdlatul Ulama satu tingkat di atasnya, kecuali jika surat permohonan tersebut diajukan oleh Pengurus Wilayah, Majelis Wakil Cabang dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama.

(11) Surat rekomendasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (10) diterbitkan maksimal 7 (tujuh) hari sejak semua kelengkapan surat permohonan rekomendasi dinyatakan lengkap.

(12) Dalam hal pengurus berwenang tidak menerbitkan dan/atau tidak memberikan rekomendasi setelah 7 (tujuh) hari sebagaimana dimaksud dalam ayat (11), maka pengurus berwenang dianggap telah memberikan rekomendasi.

(13) Dalam hal terdapat nama pejabat pengurus baru dalam permohonan susunan pengurus antar waktu, surat permohonan se- 186 Keputusan Konferensi Besar NU Tahun 2022 bagaimana dimaksud dalam ayat (9) disertai daftar riwayat hidup, Kartu Tanda Penduduk, Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU) dan sertifikat pendidikan dan pelatihan pejabat pengurus baru tersebut.

(1) Dalam hal pergantian pengurus untuk jabatan Rais ‘Aam, Ketua Umum, Rais atau Ketua di tingkatan masing-masing, sebutan jabatan untuk penggantinya masing-masing adalah Pejabat Rais ‘Aam, Pejabat Ketua Umum, Pejabat Rais Syuriyah, atau Pejabat Ketua.

(2) Dalam hal pergantian pengurus untuk jabatan selain Rais ‘Aam, Ketua Umum, Rais Syuriyah atau Ketua di tingkatan masing-masing, sebutan jabatan untuk penggantinya tidak berubah.

Masa khidmat pengurus Nahdlatul Ulama yang mengajukan pergantian pengurus adalah sama dengan masa khidmat pengurus Nahdlatul Ulama tersebut, yaitu melanjutkan sisa masa khidmat pengurus Nahdlatul Ulama dimaksud.

Bagian Kedua Pelimpahan Fungsi Jabatan

(1) Pelimpahan fungsi jabatan untuk jabatan Rais ‘Aam, Ketua Umum, Rais Syuriyah atau Ketua di tingkatan masing-masing merupakan hak prerogatif pejabat yang bersangkutan;

(2) Pelimpahan fungsi jabatan untuk jabatan Rais ‘Aam dilakukan dengan menunjuk dan memberi mandat kepada salah satu Wakil Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

(3) Pelimpahan fungsi jabatan untuk jabatan Ketua Umum dilakukan dengan menunjuk dan memberi mandat kepada salah satu Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

(4) Pelimpahan fungsi jabatan untuk jabatan Rais Syuriyah di tingkatan masing-masing dilakukan dengan menunjuk dan memberi mandat kepada salah satu Wakil Rais yang tercatat dalam pengurus Nahdlatul Ulama yang sama.

(5) Pelimpahan fungsi jabatan untuk jabatan Ketua di tingkatan masing-masing dilakukan dengan menunjuk dan memberi mandat kepada Wakil Ketua yang tercatat dalam pengurus Nahdlatul Ulama yang sama.

(6) Pelimpahan fungsi jabatan untuk jabatan selain Ketua Umum atau Ketua di tingkatan masing-masing dilakukan dengan menunjuk dan memberi mandat kepada salah satu pejabat pengurus yang tercatat dalam pengurus Nahdlatul Ulama yang sama.

(7) Penunjukan dan pemberian mandat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), (3), (4), (5) dan (6) ditetapkan dalam surat mandat yang memuat nama jabatan dan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang dilimpahkan, serta masa pelimpahan fungsi jabatannya.

Sebutan jabatan untuk pengurus yang diberi mandat adalah Pelaksana Harian atau disingkat Plh.

Masa jabatan Pelaksana Harian tidak lebih dari enam bulan sejak ditetapkan.

Segala peraturan yang bertentangan dengan Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini dinyatakan tidak berlaku lagi.

(1) Segala sesuatu yang belum diatur dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini akan diatur kemudian oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

(2) Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 20 Syawal 1443 H/21 Mei 2022 M